Bener2 deh, hari ini extra banget jagain Kikan, walaupun baru satu tahun tp tingkahnya kyk anak umur 2 tahunan, capeeeee..... g bisa diem bgt deh! Bayangin aja hari ini Kikan dah berhasil panjat meja komputer lewat kursi sofa, sendirian!!! Untung ada Tante Irma yang liat, klo gak.........gubrakk.....jatoh deh!
Padahal umurnya khan baru setahun, berhubung udah bisa jalan pas umur 9 bulan jadi berasa bayinya cuma sebentar deh hehehe...... ^_^
Duuuuuh........anakku sayang kamu bikin jantung bunda deg2an mulu nich! @_@
Saturday, January 23, 2010
JANGAN NAIK-NAIK!!!!!!!! AWAAAASSSSSS!!!
Posted by Mignonne at 12:05:00 AM 2 comments
Thursday, January 14, 2010
Bayi berusia kurang dari satu tahun, *tidak perlu* dan *tidak boleh* diberi perasa tambahan, yaitu *gula atau garam tambahan*.
*Mengapa tidak boleh diberi tambahan garam?*
Karena ginjal bayi *belum cukup kuat*, *belum cukup matur*. Kita tahu bahwa
salah satu tugas utama ginjal adalah membuang sisa-makanan minuman, obat,
racun. Nah kalau ginjal belum mampu berfungsi dengan full capacity maka
proses pembuangan zat-zat tadi juga tidak lancar, salah satunya ya Natrium
di garam sehingga *Natrium yang menumpuk* itu bisa membuat* edema alias
bengkak air* karena airnya tertahan di tubuh bayi.
Garam adalah NaCL ; Na alias Natrium memang mineral yang dibutuhkan oleh
tubuh, akan tetapi kebutuhannya sudah tercukupi dari ASI, susu formula
(kalau anakmu tidak ASI) dan dari makanan yang dia makan.
*Mengapa tidak boleh gula?*
Pernah lihat piramida makanan? Gula terletak di puncak piramida dan
senantiasa disertai statemen bahwasanya kebutuhan akan gula amat sangat
sedikit dan sudah terpenuhi dari makanan yang dikonsumsi anakmu. *Kelebihan
gula* akan disimpan dan ubah menjadi lemak, artinya, kelebihan gula akan
membuat anakmu *mengalami obesitas*. Konsumsi gula di usia dini juga
*meningkatkan
risiko diabetes melitus tipe 2*.
Di lain sisi, dengan tidak memberikan garam atau gula tambahan, anakmu
belajar mengenal rasa asli dari makanan yang diberikan. Lagi pula bayi usia
tersebut, belum membutuhkan rasa manis dan asin seperti layaknya orang
dewasa. Oleh karena itu jika kita membuat jus untuk bayi kita, jangan
tambahkan gula lagi. Biarkan bayi mengenal rasa buah misalnya jeruk, sebagai
rasa jeruk itu sendiri bukan rasa jeruk ditambah gula.
Begitu pula dengan biskuit tidak perlu ditambahkan teh manis, nanti dia
tidak bisa mengenali rasa biscuit aslinya tanpa teh manis. Sedangkan bila
sudah berusia di atas 1 tahun, bayi sudah boleh diperkenalkan dengan makanan
rumah (makannya sama dengan makanan yang kita makan) dengan catatan tetap
rendah garam dan sesedikit mungkin gula. Kaidah ini berlaku untuk semua
orang lho. Coba deh baca panduan dietetik. Selalu ada klausul seperti ini …
dengan pola makan sehat ini kita mencegah berbagai kemungkinan penyakit.
Soal makanan, coba deh kamu baca-baca jawaban saya terdahulu. Nasi tim sih
boleh saja tetapi jangan dibalik, jangan sampai anakmu setiap hari makannya
hanya nasi tim …kan salah satu panduan pemberian MPASI adalah berikan
makanan yang bervariasi. Buat menu seminggu yang bervariasi, kalau memang
jatahnya nasi tim hehehe jangan campur aduk semua menjadi satu., gak enak
dipandang mata, gak enak di lidah, anak jadi tak mengenal rasa sayur.
usia 9 bulan juga harus mulai kasar lho. maksudnya, sebenarnya saat ini kamu
sudah boleh memberikan nasi lembek (tidak keras tapi bukan selembut nasi
tim). Anak harus belajar mengunyah dan diperkenalkan bentuk makanan semakin
mirip dengan yang akan dia nikmati nantinya.
- Wati -
Untuk bayi, bahan makanan yang sebaiknya dihindari adalah sebagai berikut:
1. Bayi usia kurang dari 6 bulan
- Gandum, barley, havermout dan produk olahannya (roti dan
sereal
yang mengandung gluten
- Telur
- Kacang-kacangan dan biji-bijian
- Ikan dan kerang-kerangan
- Susu sapi
atau susu formula
susu (seperti
yogurt
- Jus buah yang rasanya asam, seperti jeruk lemon dan jeruk nipis.
- Bumbu masak atau penambah cita rasa, seperti garam, gula, kecap,
madu dan bahan pemanis lainnya
2. Bayi usia 6-12 bulan
- Kacang-kacangan, terutama kacang tanah
- Garam, gula, madu dan bahan pemanis lainnya
3. Bayi usia lebih dari 12 bulan
- Kacang-kacangan, terutama kacang tanah
- Makanan diet atau makanan yang rendah lemak
- Garam dan gula digunakan seminimal mungkin
Perlu diketahui, pemberian makanan padat pada bayi hanya ditujukan bagi
perkenalan rasa dan tekstur makanan, bukan sebagai upaya untuk memenuhi
kebutuhan gizinya. Makanan utamanya masih ASI atau pengganti ASI.
(dari web sehat, kalo ga salah)
*Penggunaan Garam, Gula dan Penyedap*
Jangan pernah memberi garam (maupun bumbu penyedap lainnya: merica, kaldu
bubuk, gula, dll)
pada makanan bayi kita. Pemberian garam (yang mengandum sodium) terlalu dini
kepada bayi bisa
menyebabkan ginjal mereka rusak. Selain itu, *pada saat mereka dewasa*,
mereka lebih *mudah*
*terkena hypertensi* (tekanan darah tinggi).
*INGAT: *Bayi tidak mengenal definisi hambar karena mereka baru belajar
mengenai rasa. Kalau kita
membiasakan pemberian makanan non-hambar sejak dini, bayi pun akan gampang
menolak
makanan yang cenderung hambar saat dia dewasa. Perhatikan saja kita sendiri,
makan apapun
selalu diberi ekstra garam, atau ekstra sambal, atau ekstra gula, atau
ekstra kecap dan bahkan
ekstra vetsin! *(WM/DS/PP)*
Sumber:
*Safely Preparing Homemade Baby Food,
http://www.wholesomebabyfood.com/tip27May.htm*
Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI
Tingkatkan tekstur, frekuensi dan porsi makanan secara bertahap
Seiring dengan pertumbuhan anak antara 6 sampai 24 bulan, maka sesuaikan
tekstur, frekuensi dan porsi makanan sesuai usia anak. Jangan lupa untuk
melanjutkan pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih dengan frekuensi
sesuka bayi. Kebutuhan energi dari makanan hádala sekitar 200 kcal/hari
untuk bayi usia 6-8 bulan, 300 kcal/hari untuk bayi usia 9-11 bulans, dan
550 kcal/hari untuk anak usia 12-23 bulan
Makanan pertama sebaiknya adalah golongan beras dan sereal karena berdaya
alergi rendah. Beras dan sereal disangrai dan dihaluskan menjadi tepung, tim
dengan air secukupnya sampai matang, kemudian campurkan dengan ASI atau air
matang untuk membentuk tekstur semi cair.
Secara berangsur-angsur perkenalkan sayuran yang dikukus dan dihaluskan dan
kemudian buah yang dihaluskan, kecuali pisang dan alpukat matang, jangan
berikan buah/sayuran mentah.
Setelah bayi dapat mentolerir beras/sereal, sayur dan buah dengan baik,
berikan sumber protein (tahu, tempe, dg ayam, ati ayam & dg sapi) yang
dikukus dan dihaluskan.
Setelah bayi mampu mengkoordinasikan lidahnya degan lebih baik, secara
bertahap bubur dibuat lebih kental (kurangi campuran air), kemudian menjadi
lebih kasar (disaring kemudian cincang halus), lalu menjadi kasar (cincang
kasar) dan akhirnya bayi siap menerima makanan padat yang dikonsumsi
keluarga.
Sejumlah jenis makanan harus ditunda pemberiannya karena merupakan pencetus
alergi, sedangkan sejumlah jenis lainnya harus ditunda pemberiannya karena
mempunyai kandungan dan bentuk yang berbahaya bagi anak di usia tertentu.
Posted by Mignonne at 10:48:00 AM 1 comments
Pemberian Keju untuk Bayi: Boleh Tidak?
Banyak yang bertanya seputar boleh-tidaknya memberikan keju kepada bayi. Nah berikut ini kami akan ulas sedikit mengenai pro dan kontra keju untuk bayi dan solusinya untuk Anda…
Apa Kelebihan Keju?
Karena keju merupakan susu yang dipadatkan, maka kandungan gizinya sebenarnya mirip dengan susu. Ia mengandung protein, vitamin, mineral, serta lemak.
Kelebihan keju dibandingkan dengan susu terletak pada jumlah kalori yang dikandungnya. Setiap 100 gram keju bisa mengandung 326 kalori, atau sekitar 5 kali lipat yang dimiliki oleh susu.
Nah, untuk anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, kalori dan protein yang terkandung dalam keju sangat baik untuk kecerdasan dan tumbuh kembangnya. Keju pun dinilai oleh para ahli gizi sangat baik untuk pertumbuhan gigi dan tulang anak.
Apa Kekurangan Keju?
Kekurangan keju terletak pada tingginya kadar garam dan lemak yang terkandung di dalamnya.
Jika anak terlalu banyak mengkonsumsi garam, dikhawatirkan ia akan menderita hipertensi di usia dewasanya. Garam yang terlalu banyak pun akan sangat sulit untuk diproses oleh ginjal si anak, sehingga nantinya bisa menimbulkan gangguan metabolisme.
Kandungan lemak yang tinggi pun bisa menyebabkan obesitas pada anak.
Lalu, Bolehkah Memberikan Keju kepada Bayi Anda?
Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:
1. Anda boleh memberikan keju setelah bayi Anda berusia 6 bulan
2. Pilihkan keju yang lunak dan sudah diproses (cheddar)
3. Untuk anak berusia > 1 tahun, batasi pemberian keju, maksimal 3 lembar setiap hari
4. Keju parmesan dan mozarella juga bisa dikonsumsi oleh anak
5. jangan menjadikan keju sebagai pengganti susu, karena keju merupakan makanan padat yang sedikit kandungan airnya
Posted by Mignonne at 9:58:00 AM 0 comments
Wednesday, January 13, 2010
Postpartum Depression, Anxiety, May Affect Infant Development
Henny Zainal CHt January 13 at 9:31am Reply
August 20, 2009 — Healthy, educated, middle-class women who are in stable relationships and who give birth to healthy, full-term babies experience disturbing rates of postpartum depression, according to a new study.
"Even in women who are as low risk as you can get in a community cohort, we find approximately 20% of women reporting symptoms of postpartum depression high enough to merit some clinical attention," said the study's lead author, Ruth Feldman, PhD, professor of psychology and neuroscience, and director, community-based infant clinic, Bar-Ilan University, Ramat-Gan, Israel.
This is important because, as the study suggests, postpartum depression can have a negative effect on infant development in terms of fear response and social interaction, Dr. Feldman told Medscape Psychiatry.
The study found that the rate of severe depressive symptoms among healthy educated women was 3.6%, and the rate of anxiety was 12.2%.
The study is published in the August issue of the Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry.
Early Symptoms
The researchers started with a sample of 971 new mothers who reported symptoms of depression and anxiety on the second day after giving birth. At 6 months postpartum, the researchers mailed questionnaires on anxiety and depression to 360 women representing both the top and bottom of the depressive symptom continuum.
Of the 215 mothers who returned these questionnaires, the researchers contacted 150 at the upper and lower ends of the depressive symptom continuum for follow-up.
The final sample at 9 months included 100 women, 45% of whom were first-time mothers. Their average age was 30.7 years, and they had completed an average of 15.8 years of education.
Of the 41 mothers composing the clinical group, 22 had a major depressive disorder, and 19 had an anxiety disorder. Seven mothers in the major depressive disorder group and 3 in the anxiety group were treated with medication. Very few were undergoing psychotherapy.
Control Group
The sample also included a control group of 59 mothers who were matched to the clinical group in age, education, parenting experience, and infant birth weight and sex.
The 9-month assessment included 2 home visits. During the first visit, mothers were assessed for Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th edition, disorders and completed self-report measures. During the second visit, investigators videotaped mothers and infants while they engaged in free play. They also monitored fear reactions in infants while showing them increasingly scary masks and took saliva samples to test for cortisol levels in both mothers and infants.
The study showed that infants of mothers who were depressed at 9 months scored the poorest on relational behavior measures including sensitivity, intrusiveness, social engagement, and withdrawal, as well as fear regulation and cortisol reactivity. These 3 measures are central to the social-emotional growth of infants.
Social Engagement
A new mother's depression might diminish her sensitivity, which in turn could stall the development of her infant's social skills. "We learn social engagement through modeling," said Dr. Feldman, adding that babies learn nonverbal "scripts" starting from about 3 months of age.
In the study, babies of depressed mothers cried and fussed more than other babies during the scary mask test. Fear response is a good indicator of how well a baby adapts to changes in his environment, explained Dr. Feldman.
"Normally, mothers would be able to provide some kind of a buffer between the child and the environment through their sensitive approach. They know when to stimulate, they know when the child needs rest, they know how to organize the child's environment and how to interact socially. When this is the case, the novelty in the world is not so scary for the child," he said.
Fear Response
Children who do not learn how to regulate their fear response become anxiety-prone later on, said Dr. Feldman. "Studies have found that those kids who show negative reaction on the same things that we measured at 9 months go on to become much more anxious and shy children in adolescence."
Babies of anxious mothers also show developmental problems. In the current study, offspring of anxious women did less well than children of control participants on infant social engagement, and the anxious mothers did worse than control participants on testing for maternal sensitivity. Mothers with anxiety scored the highest in intrusiveness, but fear regulation among their children was similar to that of children of control patients.
Anxiety in new mothers had the same negative effect on infant cortisol levels as maternal depression. These levels were highest at baseline among depressed women, followed by anxious moms, and rose still higher during testing.
It is important to know that a mother's mood is affecting the infant's physiology, said Dr. Feldman. Previous animal studies and studies that followed up children from birth to adolescence have shown that if the stress hormone, which is the body's stress management system, is altered, it is usually for life, she said.
Greater Expectations
The incidence of postpartum depression appears to be on the rise. Just a few years ago, researchers estimated the prevalence rate to be 12% to 15% but more recent research puts the figure at closer to 18% to 20% in developed countries, said Dr. Feldman.
There are likely many reasons for this rise. The problem is being studied more, and women are waiting longer to bear children (research shows depression may be related to maternal age).
In addition, women today face many more expectations than their mothers and grandmothers. "In modern society, women are expected to be thin and pretty and active right away after birth," said Dr. Feldman. They are also expected to have "this fabulous interesting career and to be this fabulous mom."
Dr. Feldman believes postpartum depression is not getting the attention it merits "Think about how much attention is being paid to autism now, and we're talking about — at most — 1.5% prevalence," she said.
Fits Clinical Experience
Asked by Medscape Psychiatry to comment on the study, Gail A. Bernstein, MD, professor and head, Division of Child and Adolescent Psychiatry, University of Minnesota Medical School, Minneapolis, said the study results fit her clinical experience, "but it was very nice to see this demonstrated with a prospective study using measures and observation that were scientifically based."
Dr. Bernstein said she and colleague Kathryn Cullen, MD, assistant professor in the same division, were very impressed with the study. "We thought it had a nice prospective study design, and we liked the fact it was a community sample. It seemed pretty clear that the study demonstrated the effects of maternal postpartum anxiety and depression on early infant development, that there were negative sequelae for infants, especially of depressed moms."
It was interesting to see a study on the effect of maternal depression and anxiety on very young babies because specialists do not see these children until they are older, added Dr. Cullen. "We don't see the children until they're perhaps 8 or 10 years old, or teenagers, so we wouldn't know what's happening in neurobiology at the early developmental stages," she said.
The authors have disclosed no relevant financial relationships.
J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2009;48:919–927.
--
"Enjoy The Most Precious and Romantic Moments By Giving ASI to Your Baby"
Salam ASI,
dr Henny H. Zainal, CHt
Konselor Laktasi
Email : drhennyzainal@live.co.uk
02199532800 / 0813-83285000 (tidak SMS)
YM : drhennyzainal@yahoo.com
Skype : drhennyzainal
Posted by Mignonne at 10:13:00 AM 0 comments
Tuesday, January 12, 2010
is my baby name... nama lengkapnya sich Kikandria Zahra Nugraha tapi berhubung text glitternya gede2 jadi g cukup dech bwt ditampilin di satu line hehehehe.... soal nama panggilan emang agak2 bikin bingung sich, Enin ma Abah suka panggil Zahra, Oma suka panggil Kikan...naaah kalo Abi ma Bunda sich flexibel aja, panggil Kikan klo g Zahra tuh! Tapi hebat juga loh, walaupun umurnya baru 1 tahun tgl 7 januari kemarin, my baby klo dipanggil sama 2 nama itu, nengok loh! Wuaaa...kamu emang anak yang pintar....
Posted by Mignonne at 10:17:00 PM 0 comments
Friday, January 8, 2010
Akhirnya....
Aaaaah...ternyata kalo mo berusaha segala sesuatu pasti bisa terwujud. Thank's to my little brother for helping me to find it out hehehehe ^_^
Posted by Mignonne at 10:45:00 AM 1 comments
